
Bali selama 2014 menerima kunjungan wisman sebanyak 3,76 juta orang, naik 14,89 persen dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 3,27 juta orang. Demikian pula selama dua bulan periode Januari-Februari 2015 wisman ke Bali tercatat 640.739 orang, bertambah 15,44 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya hanya 555.052 orang.
Kondisi demikian menunjukkan sektor pariwisata Bali dan Indonesia umumnya akan tetap eksis dalam menghadapi era global.
Persaingan dunia kerja semakin ketat ke depannya. Karena itu diperlukan sumber daya manusia yang tangguh dan siap menghadapi kompetisi di era globalisasi. Karena itulah kami berupaya mencetak tenaga-tenaga terampil yang diperlukan pangsa pasar, sehingga bisa bersaing dalam mencari pekerjaan. Tanpa diimbangi SDM yang andal dan tangguh maka kita akan kalah bersaing dalam dunia kerja pada era globalisasi

Ke depan dalam era globalisasi dan pasar bebas, maka yang diperlukan adalah sumber daya manusia yang andal dan menyiapkan tenaga sesuai kebutuhan pasar kerja. Dalam era globalisasi yang dikenal dengan liberalisasi ekonomi atau perdagangan bebas khususnya bidang jasa tenaga kerja, tenaga kerja Indonesia dituntut harus mampu bersaing dengan tenaga kerja dari negara lain. Kata kunci dari efisiensi, adalah penggunaan teknologi yang tepat dan dikuasai oleh SDM yang ada. Oleh karena itu dalam perdagangan bebas pembangunan SDM menjadi sangat penting, terutama SDM sebagai pelaku pembangunan atau tenaga kerja

Bahkan, Bali sudah mengirim sumber daya manusia (SDM) yang andal dalam bidang pariwisata, khususnya tenaga kapal pesiar ke Amerika Serikat dan sejumlah negara lainnya di belahan dunia. Hal itu menunjukkan SDM bidang pariwisata dari Bali sudah mampu bersaing di pasar global, namun lembaga pendidikan bidang pariwisata setempat masih tetap dituntut untuk mampu meningkatkan mutu lulusannya.

Peningkatan kompetensi dan kualifikasi Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi perhatian Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi). Upaya itu adalah kiat untuk mempertahankan diri ditengah era globalisasi dan penerapan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA)
kemampuan SDM adalah titik berat pihaknya. Profesionalisme adalah yang utama, jika kedepan para pelaku jasa konstruksi di Pulau Dewata tetap ingin eksis. Memang kita akan mengajak, mempersiapkan diri para pengusaha jasa konstruksi, benar-benar meningkatkan profesionalismenya, baik itu melalui peningkatan Sumber Daya Manusianya, kemudian melengkapi peralatannya, dan juga memperkuat permodalannya.
kemampuan SDM adalah kata kunci bagi para pemain lokal bersaing dengan pegiat jasa konstruksi nasional baik swasta maupun Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Bahkan untuk membidangi SDM, Gapensi disebut secara khusus membentuk Gabungan Ahli Teknik Nasional Indonesia (Gatensi). Terkait peningkatan SDM, kami juga di Gapensi ini sudah membentuk organisasi yang bergerak dibidang ketenagakerjaan yaitu organisasi profesi Gatensi Bali. Karena kita dalam rangka mempersiapkan SDM-SDM daripada badan usaha yang menjadi anggota Gapensi, ini perlu dilengkapi dengan kemampuan kompetensi, mereka harus bersertifikat.
Kalau kita melihat fakta, ketersediaan pekerjaan yang ada itu berbanding terbalik dengan keberadaan daripada perusahaan kita di Bali ini. Jumlah proyek-proyek besar yang lebih banyak, sedangkan proyek-proyek kecil sangat sedikit, sementara pengusaha kita justru yang besar itu hanya bisa dihitung dengan jari. Malah yang banyak itu yang kecil, dan menengah. Yang paling banyak itu justru kecil.
Nah oleh karena demikian harapan kami kepada pemerintah, harus ada semacam perhatian kepada pengusaha lokal ini, dengan melihat kondisi yang ada, bagaimana caranya pemaketan-pemaketan proyek itu tidak digabung-gabung. Kalau memang proyeknya satu paket kan memang tidak boleh dipecah, tetapi kalau ada proyek yang bisa misalnya tidak harus digabung, ya jangan digabung. Sehingga lebih banyak ketersediaan paket-paket yang menengah, kecil, tidak terlalu banyak ada proyek-proyek besar,” tutup I Wayan Adnyana yang juga menjabat sebagai Ketua Fraksi Demokrat DPRD Bali ini.

Keberadaan pariwisata sebagai penggerak utama perekonomian Bali menjadikan industri keramahtamahan (hospitality) mempunyai peran yang sangat strategis. Namun semua pihak harus memiliki pemahaman komprehensif tentang kepariwisataan, sehingga bermanfaat sebesar-besarnya bagi kesejahtaraan bangsa secara merata dan tetap menjaga kelangsungan sumber daya yang ada agar bermanfaat bagi generasi mendatang.