Dewasa ini kita berada di ambang revolusi yang secara fundamental akan mengubah pola hidup seperti cara manusia bekerja dan berhubungan satu sama lain. Perkembangan akan terus terjadi dan sulit untuk diprediksi. Datangnya era creative atau cultural industry dalam revolusi industri 4.0 adalah sebuah perubahan yang tidak bisa dihindarkan. Karena cepat atau lambat akan menyisir hampir di seluruh sektor, tak terkecuali pariwisata.

Revolusi industri telah terjadi sejak tahun 1750-an dan terus berlanjut sampai sekarang. Dimulai dari mesin uap yang mendominasi industri saat itu, dari kereta sampai mesin penggerak turbin. Dan sekarang memasuki revolusi industri ke 4, semuanya telah berubah secara dramatis. Tren otomatisasi, pertukaran data terkini, komputasi awan, Internet of things (IoT), kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan semua hal virtual yang mampu memudahkan kegiatan operasional kita. Hampir semua hal.
Revolusi industri secara simpel artinya adalah perubahan besar dan radikal terhadap cara manusia memproduksi barang. Perubahan besar ini tercatat sudah terjadi tiga kali, dan saat ini kita sedang mengalami revolusi industri yang keempat. Setiap perubahan besar ini selalu diikuti oleh perubahan besar dalam bidang ekonomi, politik, bahkan militer dan budaya. Sudah pasti ada jutaan pekerjaan lama menghilang, dan jutaan pekerjaan baru yang muncul.
Saat ini generasi millenial sebesar 70% sudah menikmati manfaat era digital. Mereka dapat melihat destinasi wisata maupun tempat menginap disuatu daerah wisata dengan mudah, cepat dan mudah.
Dan perlu diketahui, kita sedang berada di ambang revolusi yang secara fundamental akan mengubah pola hidup seperti cara manusia bekerja dan berhubungan satu sama lain. Perkembangan akan terus terjadi dan sulit untuk diprediksi. Dan saat ini kita sedang berada pada Revolusi Industry 4.0
Teknologi di sekitar kita telah berevolusi, membawa banyak kemudahan bagi masyarakat. Ingat saja, 20 tahun yang lalu tidak ada perusahaan seperti Google, Alibaba, Facebook, Twitter, YouTube, Uber, Airbnb, Salesforce, Snapchat, Instagram, Fitbit, Spotify, dan WeChat. Sangat berbeda dengan sekarang, yg sudah tidak asing lagi dengan sosial meda diatas.

Revolusi Industri 4.0 menekankan konsep digital dalam memenuhi kebutuhan industri dan perekonomian. Revolusi ini akan membawa banyak perubahan industri yang akan semakin kompak dan efisien. Dampak yang diberikan karena revolusi industri 4.0 akan signifikan seperti berkurangnya sumber daya manusia karena digantikan dengan mesin
Ada empat prinsip rancangan dalam Revolusi Industri 4.0. Prinsip-prinsip ini membantu perusahaan mengidentifikasi dan mengimplementasikan skenario-skenario dalam revolusi Industri 4.0
Interoperabilitas (kesesuaian): Kemampuan mesin, perangkat, sensor, dan manusia untuk berhubungan dan berkomunikasi dengan satu sama lain lewat Internet of Things (IoT) atau Internet of People (IoP).
Transparansi informasi: Kemampuan sistem informasi untuk menciptakan salinan dunia fisik secara virtual dengan memperkaya model pabrik digital dengan data sensor yg membutuhkan pengumpulan data sensor mentah agar menghasilkan informasi konteks bernilai tinggi.
Bantuan teknis: Pertama, kemampuan sistem bantuan untuk membantu manusia dengan mengumpulkan dan membuat visualisasi informasi secara menyeluruh agar bisa membuat keputusan bijak dan menyelesaikan masalah genting yang mendadak. Kedua, kemampuan sistem siber-fisik untuk membantu manusia secara fisik dengan melakukan serangkaian tugas yang tidak menyenangkan, terlalu berat, atau tidak aman bagi manusia.
Keputusan mandiri: Kemampuan sistem siber-fisik untuk membuat keputusan sendiri dan melakukan tugas semandiri mungkin. Bila terjadi pengecualian, gangguan, atau ada tujuan yang berseberangan, tugas didelegasikan ke atasan.

Untuk menghadapi era Industri 4.0, Go-digital menjadi salah satu program strategis Kemenpar dalam upaya memenangkan pasar demi mencapi target 20 juta wisatawan mancanegara di tahun 2019. Tourism 4.0 akan memusatkan target pada generasi milenial yg saat ini mencapai 50 persen dari keseluruhan wisatawan inbound ke Indonesia.
Dan pada era inilah sudah terlihat perubahan perilaku wisatawan ketika search and share 70% sudah melalui digital. Contohnya pada travel agent yg saat ini sudah tidak lagi bisa mengandalkan walk in service untuk reservasi tiket dan memilih paket wisata, semua sudah berubah dengan digital.

Namun demikian, industry 4.0 bisa dikatakan dapat membantu proses pengenalan destinasi wisata kepada masyarakat luas hanya dengan search and share pada akun sosial media. Dengan begitu, destinasi pariwisata akan dikenal masyarakat dan niscaya ini akan mengalami pengembangan yang sangat pesat akibat jumlah kunjungan yang bertambah akibat rekomendasi dari orang – orang yang memposting mengenai objek wisata tersebut.
Tetapi ini juga membuat kerugian bagi masyarakat, karena besar kemungkinan tenaga manusia tidak lagi dibutuhkan dalam jumlah banyak. Ini dikarenakan adanya mesin ataupun teknologi digital yang dapat mengerjakan suatu pekerjaan dengan mudah dan cepat.
